6.12.10

Letters To Grand Pa


Halo eyang kakung kebanggaanku,(alm) Soenarjo,SH. yang selalu saya kagumi sepanjang hidup saya. Yang selalu saya banggakan. Yang selalu dengan bangga dan wajah berbinar ditambah dengan tatapan penuh cinta saya ceritakan kepada siapapun tentang eyang -eyang kakung yang terbaik yang pernah ada didunia- yang dikirimkan Allah swt hanya untuk saya. Apa kabar,eyang kakung ? Saras kangen. Goras kangen,yang.

Saya beruntung memiliki kakek seperti eyang. Kakek yang tidak hanya penyayang dan baik hati tapi juga pemikir dan karismatik. Saya merasa memiliki banyak kesamaan dengan eyang. Yah meskipun dalam beberapa hal eyang mengungguli saya,mungkin. Saya sayang eyang. Sayang sekali. Kangen sekali.



Eyang,apa eyang baik-baik saja di surga sana ? Apa eyang bangga dengan apa yang saya lakukan,apa yang saya capai,dan apa yang saya miliki sekarang ? Ataukah eyang malu memiliki cucu seperti saya ? Saya yakin sesalah apapun saya,eyang tetap bangga dan mencintai saya. Saya yakin itu. Walaupun kini saya tidak bisa mendengar suara lembut eyang yang dengan setia menina-bobokan saya,yang membelai daun telinga saya hingga terlelap,meskipun kini saya tidak bisa melihat wajah tampan dihiasi senyum paling berkilau yang pernah ada,meskipun sekarang saya tidak bisa menyentuh raga eyang. Saya tau eyang selalu memeluk saya dalam setiap lelap saya. Eyang selalu mengamati saya dalam setiap titik peluh yang keluar dari kulit saya. Saya tahu,eyang tahu kalau saya rindu eyang.

Saya ingat segumpal,segudang,semilyar.....tak terhitung,mungkin,kenangan indah yang kita miliki. Yang kita lalui bersama. Saya ingat saya sering merepotkan eyang ketika saya masih kecil dahulu. Tapi saya selalu menjadi cucu kesayangan eyang. Eyang selalu melihat saya sebagai horison yang selalu biru. Eyang selalu menganggap saya sebagai hutan tropis khatulistiwa yang selalu hijau. Eyang selalu sayang dengan saya. Saya tahu saya bukan cucu yang baik,mendekati baik saja mungkin tidak. Tapi saya mencoba. Saya berusaha. Saya tidak sempurna. Namun selama ada eyang,ketidaksempurnaan itu bukanlah hal yang patut saya takuti karena eyang selalu membuat hari-hari saya sempurna tanpa cela.

Eyang....sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Semenjak eyang pergi meninggalkan saya,meninggalkan kita,meninggalkan dunia ini terlalu cepat. Saking cepatnya,saya belum bisa membuktikan apa-apa pada eyang. Namun semua kenangan yang kita miliki selalu saya simpan dia kotak perak dalam otak,hati,dan pikiran saya. Kadang,saya rindu bukan main pada eyang. Kadang saya sedih dan bertanya "Ya Allah kenapa engkau mengambil eyang kebanggaanku,eyang nomor satu di dunia ini dengan begitu cepat?". Tapi lalu saya tersadar,mungkin Allah swt terlalu sayang eyang,hingga Allah swt ingin lekas-lekas bertemu eyang. Allah swt tidak ingin eyang menyaksikan kerasnya dunia ini lebih lama lagi. Ini yang terbaik untuk Eyang.



Sirosis hati. Itulah kata terpahit yang pernah saya dengar. Satu kata. Satu nama. Sebuah penyakit yang membuat eyang tak dapat lagi ada di samping saya hingga kini. Yang membuat eyang berpisah dengan saya dan dengan kami semua. Yang merenggut eyang. Tapi saya tahu,eyang kuat. Eyang pasti sekarang bahagia. Eyang pasti sekarang sedang melihat kami dari surga. Saya tahu eyang pasti sedang tersenyum.

24 Mei 2000 adalah hari yang memisahkan raga eyang dengan kami. Hari dimana saat itu raga eyang terbujur kaku dengan tenang. Hari dimana eyang berpulang pada yang Maha Memiliki,Allah Swt. Namun meskipun raga eyang sudah pergi dan meninggalkan kami,bagi saya eyang masih selalu hidup. Ya,eyang akan selalu hidup,terus hidup,dan hidup selamanya. Eyang hidup dan tinggal selamanya di hati saya dan hati kami. Eyang kakungku tercinta,eyang selalu ada di hati goras. Sampai kapanpun.

Eyang Kakung,aku sayang eyang. Aku cinta eyang. Terima kasih eyang. Semoga eyang bahagia dan baik-baik disana. Insya Allah,saya akan mengubah dunia. Saya akan membuat dunia menjadi lebih baik. Saya akan menyinari orang-orang disekeliling saya sebagaimana eyang selalu menyinari hati saya dan hati kami.

Dan kini,ketika saya tak lagi dapat mengirimkan hadiah ataupun benda apapun yang berbentuk materi duaniawi sebagai tanda cinta saya pada eyang,yang bisa saya kirimkan kini hanya doa. Doa yang tulus agar eyang selalu bahagia di surga sana. Doa dan usaha keras saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi eyang yang belum sempat terwujud. Semoga surat ini terbaca oleh eyang disurga sana.Aku cinta eyang.

Untuk pahlawanku,Eyang Kakungku tercinta,
(alm) Soenarjo,SH
17 November 1934 -24 Mei 2000

0 comments:

Post a Comment